Kata Pengantar

I



Blog ini http://afsulaeman.blogspot.com/  saya buat untuk mengumpulkan dan mendokumentasi puisi-puisi yang saya tulis. Dari rentang tahun 2012 s/d saat ini. Setelah sebelumnya saya merasa kesal karena tulisan-tulisan (khususnya puisi) yang saya simpan di komputer tempat saya bekerja hampir hilang karena kerusakan hard disk

Kupikir setiap orang punya hobby, yang membuat dirinya merasa penting dan spesial. Penyuka motor akan menyimpan baik-baik motor-kesayangannya. Penyuka basket akan menyimpan bola basketnya dengan hati-hati. Sementara itu saya hanya laki-laki dengan beberapa hobby yang cemen, dan dijalani setengah hati. Hobby itu diantaranya seperti menulis dan membaca. Maka barangkali hanya dua hal tersebut yang menjadi alasan kenapa saya harus melakukan ini (mendokumentasikan puisi saya di ruang yang jauh lebih luas dan abadi: internet dan ruang ingatan milik orang iseng yang membacanya).


 II

Sejujurnya saya tidak terlalu percaya diri dengan puisi-puisi saya. Meskipun beberapa sudah saya share ke teman-teman terdekat, tetap saja perasaan puisi-ini-belum-selesai selalu menyerang saya ketika saya mencoba membaca ulang.

Dalam hal ini Afrizal Malna kayaknya benar. Menulis puisi adalah pekerjaan yang tidak akan pernah selesai. Tapi seandainya saya terus diserang perasaan demikian maka saya tidak akan sampai pada tahap puisi-ini-sudah-selesai. Atau mungkin saja bukan itu tujuan puisi ditulis. Mungkin saja bukan untuk diselesaikan. Tapi untuk terus dimulai. Mungkin dalam proses berpuisi tidak lagi berlaku lagi istilah akhirilah apa yang kamu mulai. Persis seperti yang ditulis Acep Z Noor soal gairah menulis puisi mustilah seperti pertama-kali.



II

Setelah selesai dengan perihal perasaan-puisi-ini-belum-selesai kita beranjak pada hal yang ke-dua. Apa itu puisi? 

Ah seandainya saja saya tahu dan bisa menjelaskannya ke kamu. Tapi kamu pasti sudah ngerti. Karena kamu pasti mengalaminya sendiri. Setiap hari.

Singkatnya saya tidak punya bahasa yang dapat mendekripsikan apa itu puisi bagi saya. Persis seperti apa yang saya rasakan ketika diserang-perasaan-ingin-menulis-puisi sedang menyerang saya (mungkin juga kamu).

Perasaan-perasaan yang menyerang seperti serangan kejutan, serangan fajar, alat kejut jantung, atau hal-hal lain yang arah tibanya, tujuannya sebenarnya, dan rasanya tak pernah saya tahu. 

Kadang perasaan itu datang waktu sedang hujan, digonceng teman, melihat lalu-lalang orang di jendela bus dan angkutan. Atau saat sedang di dalam buang hajat di kamar mandi. Saat sedang di tengah-tengah kuliah.

Kadang juga datang ketika sedang membaca buku, koran, atau hal-hal yang sederhana yang terjadi (momentum) yang dekat dan terjadi di sekitar kita. Hal-hal yang sepele: melihat ibu memasak dan bercerita macam-macam tentang nenek di kampung, atau gosip-gosip di sekitar tetangga, kabar adik-adik.

Tapi, itu saja bahkan tidak cukup. Saya harus juga sedang dalam posisi siap dan nyaman mencatat; kadang sedang megang handphone atau dalam suasana yang pas untuk mencatatnya dalam buku.

Jun Nizami mungkin sudah selesai dengan persoalan ini. Baginya puisi adalah kesaksian sekaligus kesangsian, kepastian dan ketidakpastian. Begitu juga bagi Aan Mansyur, baginya puisi adalah cara-bertanya, bertanya, dan mempertanyakan pertanyaannya sendiri. Mereka tahu alasan kenapa mereka menulis puisi. Tak heran jika puisi-puisi mereka sangat memukau banyak orang. Tapi mungkin bukan alasan-alasan tersebut itu yang menjadikan puisi mereka bagus.

Dalam ungkapan yang lain puisi akan terus ada, bahkan sekalipun tidak atau belum dituliskan. 

Tapi apa maksud segala hal perbincangan kita tadi? Saya hanya merasa sayang jika tulisan-tulisan saya hilang karena hal-hal yang sepele seperti hard disk rusak. Tidak bisakah jika tulisan saya hilang oleh sebab yang lebih mengerikan? Misalnya perang nuklir



III

Semoga saja tulisan tentang-blog yang kemudian saya juduli Kata Pengantar ini memang diperlukan sebagai penunjuk atau site-map buat kamu yang memang terlalu banyak waktu senggang. Saya hanya bersiap-siap saja kalau-kalau memang ada yang iseng dan penasaran kenapa saya bersikap norak dengan membuat blog yang menampung puisi-puisi saya sendiri. 

Selain itu Rudy Aliruda juga bilang, puisi adalah cara menghormati hidup. Maka dengan alasan yang sama jugalah saya begini. Menulis untuk tidak gila, lalu memilih puisi untuk menghormati hidup.

Akhirulkalam. Selamat menikmati. Jagalah kesehatan.