Ajal

(kau simpan yang ada di hari-hari terakhir)
 
angin menggoyang pucuk-pucuk padi
menyeret kerumunan kangkung yang serba tanggung
cuitan-cuitan panjang burung-burung
menyeberang sawah, di bawah kubah langit
menggema segala macam suara di bawahnya

Semua cerita pasti selesai
Seperti tiap pertemuan yang bakal lerai

Maut menjalar dari bawah batangmu
naik ke perut kosongmu perlahan-lahan
sambil menjilatjilat di bilik jantungmu

kau merasa sangat yakin,
betapa keabadian begitu mengerikan
dan terlampau berlebihan untukmu.

Kefanaan juga mimpi yang tidak kalah mengerikannya.
Kau teringat Pascal, tapi kau benci pertaruhannya.

Kausimpan semuanya hari itu.

Sebelum api sampai ke dalam sumsung balungmu.
dan ingatanmu hanya abu pra-diterbangkan waktu

Angin menggoyang pucuk-pucuk padi,
menyeret gerombolan kangkung ke dalam kehendaknya.
Dan entah apa lagi yang dilarikan hal sehalus angin
dan sesubtil waktu

selain gema cuit burung-burung, atau kemurungan
yang terus menerus mengekalkan diri dalam larik-larik ini:

Kepergian adalah kepergian.
Kekekalan tidak menjanjikan apa-apa.
Sementara kefanaan masih belum bisa
kita terima sepenuhnya.