Melankoli 1


 
-Afina

Entahlah Fi, bagaimana ini semua menjadi penting
Untuk diulang-ulang. Ketika dua belah tanganmu
meliputi dua kutub wajahku. Seperti siang dan malam
Yang muncul suatu waktu, pada suatu tempat di kepalaku

Kubaca matamu: pendaran cahaya
                “Kamu denganku”
Galaksi terus melautkan sunyi
Bintang-bintang beredar dalam miqdar
Planet-planet berputar sesuai manzilah
                “Tapi aku di sini, denganmu.”

Kesedihan cuma gantungan baju
Terus berganti warna, ia masihlah yang sama

(dari tempat paling udik di jantungku)
Timbullah keberanian. Sementara samodra terus hidup
Melayarkanku. Gerombolan gelombang yang siaga
menggulung nyaliku di suatu waktu yang tak kuduga

Tapi aku milikmu!
Aku dalam telapak tanganmu.
Aku dalam jangkauanmu
Aku milikmu, Aku denganmu (kan?)

Aku menyimpan setiap ciuman
Seperti mengenang peristiwa-peristiwa
agung.

                Nuh mengangkut jenis-jenis hayawan
                Ibrahim dalam gelora api
                Musa membedah perut laut
(Firaun tak boleh ikut)

Tapi kau di sini, denganku (kan?)
Dua bilah tanganmu pada dua kutubku
Hayat-Mautku.

Fi, hari terasa terus runtuh
Gunung-gunung bergerak menjauh
Dari hijau kepada biru
                Di kaca bus kota, meleleh bulir-bulir air
                Mendadak saja terasa. Begitu melankoli
  perjalanan ini.