Melankoli 1


 
-Afina

Entahlah Fi, bagaimana ini semua menjadi penting
Untuk diulang-ulang. Ketika dua belah tanganmu
meliputi dua kutub wajahku. Seperti siang dan malam
Yang muncul suatu waktu, pada suatu tempat di kepalaku

Kubaca matamu: pendaran cahaya
                “Kamu denganku”
Galaksi terus melautkan sunyi
Bintang-bintang beredar dalam miqdar
Planet-planet berputar sesuai manzilah
                “Tapi aku di sini, denganmu.”

Kesedihan cuma gantungan baju
Terus berganti warna, ia masihlah yang sama

(dari tempat paling udik di jantungku)
Timbullah keberanian. Sementara samodra terus hidup
Melayarkanku. Gerombolan gelombang yang siaga
menggulung nyaliku di suatu waktu yang tak kuduga

Tapi aku milikmu!
Aku dalam telapak tanganmu.
Aku dalam jangkauanmu
Aku milikmu, Aku denganmu (kan?)

Aku menyimpan setiap ciuman
Seperti mengenang peristiwa-peristiwa
agung.

                Nuh mengangkut jenis-jenis hayawan
                Ibrahim dalam gelora api
                Musa membedah perut laut
(Firaun tak boleh ikut)

Tapi kau di sini, denganku (kan?)
Dua bilah tanganmu pada dua kutubku
Hayat-Mautku.

Fi, hari terasa terus runtuh
Gunung-gunung bergerak menjauh
Dari hijau kepada biru
                Di kaca bus kota, meleleh bulir-bulir air
                Mendadak saja terasa. Begitu melankoli
  perjalanan ini.

Sebuah Paket Pensil Warna yang Menggambar Punggung Burung, Reranting Pohon, dan Pucuk-pucuk Kota yang (Sepertinya) Mandi Hujan




Menukiklah segala hal yang akan hinggap.
Melipat sayap. Menaksir keluasan langit
Dari ranting-ranting pohon
Tampaklah kota manusia yang
Lengang dan tenang. Mandi hujan.
 
2015

Kepada Katniss Everdeen

Burung-burung Mockingjay beredar di atas danau
Menyanyikan hilang. Pada pohon-pohon
revolusi yang ranggas mayat-mayat pemberontakan
menjuntai dari ranting-rantingnya yang kekar
dan mulai terbakar

Pipi dan dadamu yang penuh itu, Katniss
Hitam yang memilin manis rambutmu itu, manis
mengingatkanku pada Peeta, atau Gale
Dan kecupan-kecupan kecil  yang kau arahkan
Ke duanya. Seperti menentukan bidang bidik
anak panahmu. Presisi juga buta
(Fair, but unfair. Logic, but illogical)

Hidup atau cintakah yang seperti game, My Dear Katniss?
Ataukah game yang memainkan kita diantara ke duanya?

Katniss, O, Katniss. Gadis manis dari distrik 13

Apa itu Revolusi?
Apa itu cinta?
Apa itu perang?

Apa itu If  we burn (Mr. Snow)
you burn whit us?



2015

Cerita Tentang Laki-laki Lumpuh yang Menuliskan Sesuatu Soal Tuhan, Waktu, dan Semesta

-Prof. Hawking

Seseorang laki ringkih bicara
Dari kursi duduk elektriknya
Dengan suara robotik
“Where is life, there is hope”

O, Steve, kaukah itu
Laki-laki yang tak pernah memerlukan
Tuhan. Seperti kami memerlukan
Makanan sehari-hari.

“Aku manunggal dan mandiri
dalam persamaan-persamaan linear
pusaran Black Hole
sejarah waktu
dan mawjud awal-mula.

Kemudian sekumpulan orang yang sangat bodoh
Berencana membakar kursi rodamu
tapi aku tak pernah tertarik menyulut apa pun
Selain sebatang pipe milik Mr. Albert
Penasaran. Apa bedanya tembakau Kudus
dengan Theory of everything?


2015

Mencari Ibu Puisi

-untuk Rudy Aliruda-

Kami sedang mencari dengar kisah
paling agung dalam perjalanan katakata.
Dari muasal silsilah Adam
nama-nama dilepasterbitkan,
di lisan Muhammad kata-kata ditiupruhkan.

Lalu seorang pejalan memanggilnya Ibu Puisi,
ibu yang basah dan getar suaranya,
ibu yang gelar di simpang perjalanan
ibu yang gerai lelembar rambutnya

: bahasa menguarkan aroma,
  katakata adalah lengannya
  yang teduh dan memeluk.

Seagung-agung Ia yg rahasia
berpusat di dadanya

: lalu yang gunung olehNya julang,
  yang sungai denganNya alir,
  yang tanah karenaNya rebah

sebagai qiyam, sujud, tasyahud
dalam rakaat-rakaat perjalanan katakata.


Pejalan, diakah yang kadang batuknya
terdengar redam,
ketika musim singgah diperhujanan
(paras pias udara,
titik-lekuk tanah,
dan riang senyap ruang suara)

Pejalan, di ujung kerudungnya,
kami sedang mencuri dengar.
Batuknya yang purba, pelan-pelan
menggendam dalam diam.


November 2013

Ibrahim dan Matahari

: warna kulitnya yang keemasan
rambutnya yang hitam dan lambai,
bergoyang perlahanlahan
di antara bungatunas zaitun yang hijau
dan segar


seorang perempuan mendatanginya
dengan tubuh paling sintal sejagat raya

“Kamu bukan Kekasihku”
 

dari tengkuknya yang gemetaran
dengan lembut dia letakkan kembali
sepasang lengan paling hangat
yang sampir dan hampir
meranggaskan bulu-bulu remajanya
 


lalu dengan gerakan yang malu-malu
matahari menutup kembali
sebuah singkapan paling birahi
dari kubah kenyal (yang nyala) di dadanya

 

2013