-Afina
Entahlah Fi,
bagaimana ini semua menjadi penting
Untuk
diulang-ulang. Ketika dua belah tanganmu
meliputi dua kutub
wajahku. Seperti siang dan malam
Yang muncul suatu
waktu, pada suatu tempat di kepalaku
Kubaca matamu:
pendaran cahaya
“Kamu denganku”
Galaksi terus
melautkan sunyi
Bintang-bintang
beredar dalam miqdar
Planet-planet
berputar sesuai manzilah
“Tapi aku di sini, denganmu.”
Kesedihan cuma
gantungan baju
Terus berganti
warna, ia masihlah yang sama
(dari tempat paling
udik di jantungku)
Timbullah
keberanian. Sementara samodra terus hidup
Melayarkanku.
Gerombolan gelombang yang siaga
menggulung nyaliku
di suatu waktu yang tak kuduga
Tapi aku milikmu!
Aku dalam telapak
tanganmu.
Aku dalam
jangkauanmu
Aku milikmu, Aku
denganmu (kan?)
Aku menyimpan
setiap ciuman
Seperti mengenang
peristiwa-peristiwa
agung.
Nuh mengangkut jenis-jenis
hayawan
Ibrahim dalam gelora api
Musa membedah perut laut
(Firaun
tak boleh ikut)
Tapi kau di sini,
denganku (kan?)
Dua bilah tanganmu
pada dua kutubku
Hayat-Mautku.
Fi, hari terasa terus
runtuh
Gunung-gunung
bergerak menjauh
Dari hijau kepada
biru
Di kaca bus kota, meleleh
bulir-bulir air
Mendadak saja terasa. Begitu
melankoli
perjalanan
ini.