interlude

kauikat rambut dan mencari aku.
untuk mengabaikan sisa embun di jendela,
dan menafsir seluruh hari

yang kau simpan
sebelum tidur mengecup kelopak matamu,
yang kau cari
pertama kali begitu pagi
mengacak-acak rambutmu.

menjadi kacamatamu dan
menyalakan warna monochrom di matamu.

waktu membingkai mata dengan kaca.
Seperti laut meriasdiri dengan
Arsir pasir, batang kelapa,
Angin bergaram, dan desir melankolia

Titikmula medan perburuan ikan,dan
ibu para perahu

Duh, nelayan mana sudah menebar jala
memenangkan keluasan hatimu yang palig lubuk.
Tanpa pengetahuan arus dalam perut laut.


Tidak pula dapat kudengar hal-hal yang kau sembunyikan
dari mulutmu, meski matamu selalu ingin bicara.
Waktu, seperti acakan angin lautan,
melayarkanmu,
menghanyutkanku,
lalu jarak akan
mengaburkan semua
makna kita,
seperti biasa.

Seorang nelayan mestilah perempuan
yang terus mengekalkan ikatan rambutnya
Atau semisal santri yang mensyakal matan ‘imrity
sambil menjaga matanya tetap menyala
               dan menyalakan mata minusnya dengan kaca

Tapi rahasia tetaplah rahasia
menyisakan semua
Terseret
-seret
dalam dugaan penglihatan.